Menggali Potensi Lewat Pendidikan Non-Formal Yang Sering Terabaikan

Menggali Potensi Lewat Pendidikan Non-Formal Yang Sering Terabaikan

Pendidikan non-formal sering kali terabaikan dalam percakapan sehari-hari tentang pengembangan diri. Satu pengalaman yang sangat berkesan bagi saya adalah saat saya terlibat dalam sebuah program budaya di komunitas lokal di kota kecil saya, tahun lalu. Program ini bertujuan untuk mengenalkan seni dan budaya lokal kepada generasi muda yang semakin terasing dari akar budayanya.

Awal Mula Keterlibatan

Pada awalnya, saya ragu untuk bergabung. Sebagai seseorang yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di dunia pendidikan formal, saya merasa bahwa pengetahuan yang didapat melalui kursus dan ujian adalah satu-satunya cara untuk belajar. Namun, setelah mendengar cerita dari seorang teman tentang bagaimana pendidikan non-formal bisa membuka wawasan baru dan memberikan keterampilan praktis, rasa penasaran itu mulai membara. Saya ingat jelas saat itu, kami duduk di sebuah kafe kecil sambil menyeruput kopi panas. Dia berkata, “Ketika kamu belajar dari kehidupan nyata, bukan hanya teori di buku teks, kamu menemukan dirimu sendiri.” Kata-kata itu menembus hati saya.

Tantangan dan Ketidaknyamanan

Begitu bergabung dengan program tersebut, tantangan pertama muncul: ketidaknyamanan berada di luar zona nyaman. Selama pertemuan pertama yang berlangsung pada sore hari yang cerah itu—kami berkumpul di balai desa—saya merasa canggung melihat sekelompok orang dengan latar belakang berbeda berkumpul bersama untuk menyelami tradisi dan nilai-nilai budaya setempat.

Saat kami diperkenalkan kepada pelatih dan seniman lokal yang akan membimbing kami selama beberapa bulan ke depan, keraguan menyelimuti pikiran saya. Apakah saya akan bisa mengikuti? Apakah mereka akan menerima kehadiran seorang ‘pelajar formal’ seperti saya? Namun saat kelas pertama dimulai—yang berfokus pada tarian tradisional—semua keraguan itu perlahan memudar ketika alunan musik mengisi ruangan dan semua orang mulai bergerak bersama-sama.

Proses Belajar dan Pertumbuhan

Seiring berjalannya waktu dalam program tersebut, sesuatu mulai berubah dalam diri saya. Saya tidak hanya belajar tentang tarian; saya juga belajar arti kolaborasi dan saling menghargai perbedaan antar peserta. Dalam salah satu sesi mendalam tentang kerajinan tangan tradisional membuat batik tulis, momen pencerahan muncul ketika seorang ibu dari komunitas menjelaskan makna setiap motif dalam batik. “Setiap garis ada ceritanya,” katanya dengan penuh emosi saat tangan-tangannya sibuk menggoreskan malam ke kain putih.

Saya merasakan benang merah antara seni dan kehidupan sehari-hari; bagaimana seni mencerminkan kisah masyarakatnya sendiri. Dan meskipun awalnya hanya ingin menggali potensi diri melalui pendidikan non-formal ini untuk alasan pribadi atau mungkin sekedar rekreasi semata—saya akhirnya menemukan passion baru: menyampaikan cerita budaya kita kepada orang lain melalui tulisan labuca. Keterampilan menulis pun berkembang bersamaan dengan penguasaan keterampilan budaya lainnya.

Hasil Akhir: Mengubah Pandangan Tentang Pendidikan Non-Formal

Akhirnya program tersebut berakhir dengan pertunjukan tahunan dimana setiap kelompok menampilkan hasil karya mereka; tarian hingga pameran batik menjadi bagian integral acara ini. Saat melihat anak-anak muda dari berbagai latar belakang tampil percaya diri di panggung—serta momen haru saat salah satu peserta menyatakan rasa syukur atas kesempatan belajar ini—saya tersentuh oleh kekuatan pendidikan non-formal.
Saya menyadari bahwa pendidikan tidak hanya tentang ujian atau nilai; ia lebih pada pengalaman praktis hidup yang membentuk karakter kita sebagai individu.
Kini ketika melihat kembali perjalanan ini—dari keraguan hingga menemukan makna sejati dari kebudayaan kita—I knew that education is not confined to classrooms and textbooks but is a continuous journey of self-discovery through hands-on experiences and cultural exchanges.