Mengapa Melukis Itu Seperti Terapi Bagi Jiwa Saya?
Pernahkah Anda merasakan satu hari yang sangat berat, di mana segala sesuatu terasa berantakan? Saya ingat dengan jelas salah satu momen itu, ketika saya duduk di sudut ruang tamu rumah saya pada tahun 2021. Langit mendung dan suasana hati saya pun serupa. Saya baru saja menerima berita bahwa aplikasi beasiswa saya ditolak. Rasanya seperti disambar petir, seakan seluruh dunia berhenti sejenak. Namun, dalam kondisi patah semangat itu, saya menemukan jalan untuk bangkit kembali—melalui lukisan.
Awal Mula Ketertarikan pada Melukis
Saya tidak pernah membayangkan melukis akan menjadi bagian penting dalam hidup saya. Sejak kecil, seni telah menjadi hobi bagi banyak orang di keluarga saya; tetapi bagi saya, ini hanya sekedar kegiatan yang dilakukan saat bosan. Baru setelah pengalaman pahit tersebut, ketika semua rencana tampak gagal dan jalan di depan menjadi kabur, saya mulai menjelajahi dunia melukis secara serius.
Dengan kuas di tangan dan kanvas kosong di depan mata, suasana hati yang gelap mulai perlahan-lahan berubah. Saya mengambil cat akrilik yang sudah lama terpendam di dalam lemari dan mulai menciptakan karya-karya sederhana—gambar pemandangan alam yang menenangkan jiwa dan penuh warna ceria.
Tantangan Saat Berkarya
Tentunya tidak semua berjalan mulus. Ada kalanya warna-warna tidak mencampur dengan baik atau komposisi terlihat aneh meskipun sudah mencoba berkali-kali. Sering kali muncul dialog internal: “Apakah ini benar-benar seni?” atau “Apa yang aku lakukan ini sia-sia?” Namun setiap kali rasa putus asa itu menghinggapi pikiran saya, ada pula perasaan lega saat kuas menyentuh kanvas dan warna-warna mulai berbicara sendiri.
Saya ingat saat malam-malam panjang ketika tetangga bisa mendengar suara musik lembut dari ruangan kecil tempat saya berkarya. Musik klasik menemani setiap goresan kuas; Beethoven atau Chopin sering kali membuat pikiran tenang sehingga kreativitas mengalir dengan lancar. Dalam prosesnya, lukisan bukan hanya sekadar produk akhir; ia menjadi alat untuk melepaskan emosi terpendam—sebuah terapi jiwa tanpa perlu sesi konsultasi resmi.
Pembelajaran Dari Setiap Lukisan
Setelah berbulan-bulan menggenggam kuas dengan penuh ketekunan dan percaya diri yang meningkat setiap harinya, lukisan-lukisan pertama itu akhirnya selesai. Ada satu karya favorit yang berhasil dibuat: sebuah landscape biru laut dengan langit cerah dipenuhi awan putih berbulu—seperti harapan baru yang muncul dari kegelapan sebelumnya.
Dari pengalaman ini pula muncul insight penting: seni bisa menjadi kendaraan untuk menyampaikan perasaan kita tanpa perlu kata-kata verbal yang kadang sulit keluar dari mulut kita sendiri. Dalam era digital ini pun kita tidak harus terbatas pada galeri fisik; platform seperti labuca memberi ruang bagi seniman untuk menunjukkan karyanya ke audiens global tanpa batasan geografis.
Kembali Ke Jalan Semula
Seiring waktu berlalu dan perasaan pemulihan terus tumbuh setelah mengeksplorasi sisi kreatif ini lebih jauh lagi, ternyata kesempatan lain datang mengetuk pintu—dan kali ini adalah tawaran beasiswa kembali! Dengan mentalitas baru sebagai seniman sekaligus pelajar hidup yang terus belajar dari kesalahan serta mengekspresikan diri melalui lukisan-lukisan tersebut membuat perjalanan pendidikan terasa lebih ringan dan bermakna.
Sekarang setiap goresan kuas adalah pengingat bahwa meski terkadang kehidupan membawa kita ke jalan berkelok penuh rintangan—ada cara untuk menemukan kembali diri kita lewat media ekspresi seperti melukis; sebuah bentuk terapi bagi jiwa kami masing-masing agar bisa lebih tenang menjalani hari-hari selanjutnya.